Bahagia di Dunia dan Akhirat

Menurutku, puasa bangsa ini yang paling besar adalah melawan hawa nafsu untuk mencela, dan mengujar kebencian yang tentunya berujung pada perpecahan dan keruntuhan. Padahal, hampir rata-rata tujuan utama kita hidup di muka bumi ini adalah sama, yakni: bahagia di dunia, dan bahagia pula di akhirat.

Kebahagiaan dan ketenteraman itu pun berbeda-beda penafsiran orang serta bentuknya. Sehingga tidak ada pasal, untuk berbahagia di atas penderitaan orang lain. Terlebih lagi, memaksakan kehendak kita kepada orang banyak. Oleh karena itu, puasa tahun ini kembali mengajarkan kita untuk lebih banyak menahan diri. Termasuk dari kegabutan yang tidak perlu itu.

Lebaran Ini Pengen Mudik

Mungkin.. sudah 2 tahun lamanya aku tidak pulang kampung. Tidak mudik. Tidak melihat kondisi ibu secara langsung, yang kini hidup sendirian pasca meninggal bapak. Tidak lagi berkumpul dengan adik-adikku yang semakin besar. Yuli yang mau menikah, Dapit yang sebentar lagi tamat kuliah, dan Nanda yang sebentar lagi tamat pesantren. Jujur, aku rindu mereka. Siapa pula Abang yang tidak rindu adik-adiknya? Walaupun jika bertemu, selalu saja ribut-ribut sampai dengan berantam. Tapi mereka tetaplah adik-adik kecilku yang kusayangi, dan yang akan selalu kudukung kehendak bebas mereka.

Begitu pula dengan masakan Ibu.. Aku rindu setiap kali hari raya. Ibu bakal memasak makanan kesukaan kami dalam jumlah dan porsi besar. Lontong + rendang ataupun bakso + kuah sop. Jadi lucunya, setiap hari lebaran tiba adalah hari-hari dimana kami akan memakan lontong atau bakso mulai dari pagi, siang hingga malam. Bisa dibayangkan, bukan? Hahaha.

Semoga lebaran tahun ini aku, istriku dan anakku Qanita bisa pulang kampung. Melihat ibu, makan masakan ibu, serta berjumpa dengan adik-adikku. Ibu, doakan anakmu di perantauan ini diberi tetap kemudahan rezeki oleh Allah SWT, serta tentunya senantiasa diberikan kesehatan, sehingga kita dapat berkumpul kembali.

Semangat menjalankan ibadah puasanya ya Mak, Yuli, Dapit dan Nanda.. Salam dari kami di Medan πŸ˜€πŸ‘¨β€πŸ‘©β€πŸ‘§πŸ–

Puasa adalah..

Puasa itu Allah sendiri yang menilainya. β€œPuasa untukKu, dan Aku yang akan membalasnya,” kata-Nya. Menggantikan tupoksi utama Malaikat Raqib dan Atit, yang sehari-hari bertugas mencatat amal baik dan buruk umat manusia. Mungkin ini yang menjadi salah satu penyebab, kenapa manusia di bumi berbondong-bondong ‘menjadi’ taat beribadah. Mungkin karena takut disidak mendadak oleh Tuhannya secara langsung. Mengecek tingkat ketaatan hamba-Nya. Kira-kira seperti bos atau kepala yang menginspeksi seluruh karyawannya secara tiba-tiba. Untuk mengukur efektivitas kinerja mereka.

Bulan ramadhan juga seperti the month of the game. Bulannya ujian umat muslim. Dalam menahan rasa lapar dan haus dari pagi hingga petang. Dalam menahan rasa lemas dan kantuk, karena mendirikan salat malam + sahur. Qiyamul lail seperti tarawih dan tadarus. Dalam menahan rasa marah dan hawa nafsu yang terkadang membuncah. Harus senantiasa tergantikan dengan 5S, yakni: Senyum, Sapa, Salam, Sabar dan Salat.

Pada akhirnya, puasa mengajarkan arti pentingnya kedisiplinan dalam hidup, dan tentunya lebih berempati antar sesama dalam hal kehidupan sosial bermasyarakat. Semoga di hari ke-3 bulan puasa ini. Kita tidak hanya menjadi hamba yang muslim. Melainkan terus meningkatkan diri menjadi muslim yang mukmin, mukhlis dan tentunya muttaqien. Kita pasti bisa!

Perihal Hijrah

Aku bahkan baru mengenal kata ‘hijrah’ ketika kuliah S2. Sebelumnya aku tak pernah kenal istilah itu. Meskipun aku lulusan pesantren. Aku baru mengenal istilah itu dari istriku sekarang. Kala itu, ia rajin bolak-balik ikut kajian setiap sabtu dan minggu.

Mula-mula ketika aku coba mengikuti rutinitasnya. Aku merasa besar kepala. Aku merasa lebih tahu soal agama ketimbang ustadz yang sedang memberikan kajian. Aku merasa lebih paham, karena 6 tahun duduk di pesantren. Mulai dari Madrasah Tsanawiyah (SMP) hingga Madrasah AliyahΒ (SMA).

Tapi lama-kelamaan aku tahu, aku salah. Bahwa alim agama itu bukan perkara siapa yang lebih banyak hafal dalil; bukan siapa yang lebih paham soal hukum. Melainkan siapa yang mau lebih banyak mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Aku melihat perilaku saleh itu pada para jamaah kajian. Mereka senantiasa tersenyum. Mereka rendah hati, seperti tidak pernah ada masalah dalam hidup mereka. Terlebih lagi mereka kaya. Hal yang selama ini menjadi tujuan hidupku. Ternyata mereka malah mencari tujuan hidup yang lain. Yaitu ketenteraman hati.

Sejak saat itu, walaupun sulit. Orientasi hidupku mulai kuubah. Aku harus hijrah. Dalam artian pindah dari pandanganku yang materialis kepada islamisme. Artinya tidak harus kaya, tapi berkecukupan dan hati bahagia. Tidur cukup dan yang terpenting punya waktu bersama keluarga.

Hidup memang tidak semudah itu (Ferguso). Hahaha. Tapi Islam memang harus mulai menjadi the way of life (cara hidup) kita kaum mukmin. Pada hari ke-5 di bulan puasa ini, yuk mulai bertransformasi (pindah/hijrah) baik secara fisik maupun mental menuju ke arah yang lebih baik. AminπŸ™πŸ˜Š

Menggunakan Media Sosial untuk Kebaikan

Ada banyak cara dalam menyebarkan kebaikan. Salah satunya adalah dengan menggunakan media sosial secara bijak. Ya, media sosial yang sedang digandrungi anak muda milenial saat ini. Pergunakanlah media sosial untuk mengajak kepada kebaikan. Meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan untuk terus berbuat baik. Bukan sebaliknya, menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian. Hal ini tentu menimbulkan perpecahan. Sudah saatnya kita menggunakan kreativitas di jagat maya untuk hubungan manusia yang lebih baik. Tentu tidak perlu menunggu ‘centang biru’ untuk itu. Sebab berbuat baik tidak pernah menunggu waktu tertentu. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam menjalankan puasa pertama ini. Amin.