Puasa adalah..

Puasa itu Allah sendiri yang menilainya. “Puasa untukKu, dan Aku yang akan membalasnya,” kata-Nya. Menggantikan tupoksi utama Malaikat Raqib dan Atit, yang sehari-hari bertugas mencatat amal baik dan buruk umat manusia. Mungkin ini yang menjadi salah satu penyebab, kenapa manusia di bumi berbondong-bondong ‘menjadi’ taat beribadah. Mungkin karena takut disidak mendadak oleh Tuhannya secara langsung. Mengecek tingkat ketaatan hamba-Nya. Kira-kira seperti bos atau kepala yang menginspeksi seluruh karyawannya secara tiba-tiba. Untuk mengukur efektivitas kinerja mereka.

Bulan ramadhan juga seperti the month of the game. Bulannya ujian umat muslim. Dalam menahan rasa lapar dan haus dari pagi hingga petang. Dalam menahan rasa lemas dan kantuk, karena mendirikan salat malam + sahur. Qiyamul lail seperti tarawih dan tadarus. Dalam menahan rasa marah dan hawa nafsu yang terkadang membuncah. Harus senantiasa tergantikan dengan 5S, yakni: Senyum, Sapa, Salam, Sabar dan Salat.

Pada akhirnya, puasa mengajarkan arti pentingnya kedisiplinan dalam hidup, dan tentunya lebih berempati antar sesama dalam hal kehidupan sosial bermasyarakat. Semoga di hari ke-3 bulan puasa ini. Kita tidak hanya menjadi hamba yang muslim. Melainkan terus meningkatkan diri menjadi muslim yang mukmin, mukhlis dan tentunya muttaqien. Kita pasti bisa!

Bapak..

Dulu, saat Bapak dan Mamak masih menyewa rumah. Kami sering kali berpuasa dalam keadaan listrik padam. Lucunya hal ini sering terjadi ketika hendak berbuka, bukan pagi atau siang sebelum itu. Jadinya kami tidur bertemankan lampu semprong (lampu minyak). Lantaran terlalu sering memakainya, dan mungkin juga karena terlalu dekat jaraknya, ujung-ujung hidung kami pun menjadi hitam terkena asap. Kami tertawa-tawa ketika itu. Kejadian unik setiap sahur tiba.

Kini, berbelas tahun setelah kejadian itu. Kami masing-masing mulai hidup terpisah. Aku di Medan bersama keluarga kecilku, adik-adikku di perantauan (Jambi, Aceh dan juga ada yang masih di pesantren). Mamak di rumah dan Bapak, mungkin sudah tiga tahun kami berpuasa tanpa kehadiran beliau. Bapak sudah dipanggil Allah lebih dulu. Mungkin Allah SWT lebih sayang kepada Bapak. Orang baik dan gigih yang aku kenal selama ini.

Demikianlah hidup, hanya tempat persinggahan semata. Lirik lagu Endank Soekamti: Datang akan Pergi/Lewat kan Berlalu/Ada kan tiada/Bertemu akan Berpisah. Namun, mengingat Allah baik ketika berdiri, duduk maupun berbaring jangan sampai terlupa. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan Penguasa Alam Semesta.

Pada hari ke-4 bulan puasa ini, mari bersama-sama kita memanfaatkan waktu dan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Toh, kita tidak akan pernah tahu, akankah berjumpa lagi pada bulan puasa yang akan datang. Sesungguhnya jodoh, rezeki dan maut adalah rahasia milik Allah SWT.

Perihal Hijrah

Aku bahkan baru mengenal kata ‘hijrah’ ketika kuliah S2. Sebelumnya aku tak pernah kenal istilah itu. Meskipun aku lulusan pesantren. Aku baru mengenal istilah itu dari istriku sekarang. Kala itu, ia rajin bolak-balik ikut kajian setiap sabtu dan minggu.

Mula-mula ketika aku coba mengikuti rutinitasnya. Aku merasa besar kepala. Aku merasa lebih tahu soal agama ketimbang ustadz yang sedang memberikan kajian. Aku merasa lebih paham, karena 6 tahun duduk di pesantren. Mulai dari Madrasah Tsanawiyah (SMP) hingga Madrasah Aliyah (SMA).

Tapi lama-kelamaan aku tahu, aku salah. Bahwa alim agama itu bukan perkara siapa yang lebih banyak hafal dalil; bukan siapa yang lebih paham soal hukum. Melainkan siapa yang mau lebih banyak mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Aku melihat perilaku saleh itu pada para jamaah kajian. Mereka senantiasa tersenyum. Mereka rendah hati, seperti tidak pernah ada masalah dalam hidup mereka. Terlebih lagi mereka kaya. Hal yang selama ini menjadi tujuan hidupku. Ternyata mereka malah mencari tujuan hidup yang lain. Yaitu ketenteraman hati.

Sejak saat itu, walaupun sulit. Orientasi hidupku mulai kuubah. Aku harus hijrah. Dalam artian pindah dari pandanganku yang materialis kepada islamisme. Artinya tidak harus kaya, tapi berkecukupan dan hati bahagia. Tidur cukup dan yang terpenting punya waktu bersama keluarga.

Hidup memang tidak semudah itu (Ferguso). Hahaha. Tapi Islam memang harus mulai menjadi the way of life (cara hidup) kita kaum mukmin. Pada hari ke-5 di bulan puasa ini, yuk mulai bertransformasi (pindah/hijrah) baik secara fisik maupun mental menuju ke arah yang lebih baik. Amin🙏😊

Perihal Kejujuran

Shiddiq (jujur) adalah salah satu sifat kenabian Muhammad SAW berjuluk Al-Amin yang perlu kita tauladani dalam kehidupan sehari-hari. Terutama di bulan ramadhan yang merupakan ibadah rahasia secara vertikal antara hamba dan Tuhannya. Artinya sejalan dengan pikiran, perkataan dan perbuatan yang benar. Don’t no action, talk only. Begitulah kira-kira..

Jujur juga adalah bentuk integritas utama yang perlu ditanamkan sejak dini. Sebagai bentuk solutif atas berbagai akar permasalahan bangsa dan tanah air. Guna mewujudkan Baldatun tayyibatun wa rabbun ghaffur.

Jujur dapat pula dilakukan ketika berdagang, menjadi negarawan, anak kepada orangtua, orangtua kepada anak, pejabat, civitas akademika, pegawai, mahasiswa, dan sebagainya. Sebagai bentuk perbuatan baik dan lurus hati, serta ikhlas terutama di bulan ramadhan ini agar kita senantiasa dapat menjadi hamba yang bertakwa.

Wal akhir, mari kita samakan langkah, seragamkan gerak, satukan persepsi, berdiri sama tinggi. Duduk sama rendah, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing pada hari ke-6 di bulan puasa ini. Berani jujur hebat!

Kata “MAAF..”

Maaf adalah kata yang mudah untuk ditulis, tapi sulit sekali untuk dikatakan. Coba saja katakan kata itu pada suamimu, istrimu, anakmu, orangtuamu, ataupun saudaramu. Niscaya akan mendadak sulit, lidah terasa kelu dan berat. Seolah ada banyak hal yang harus dipikirkan, bahkan sebelum mengucapkan kata ‘maaf’ itu.

Padahal, kita harus senantiasa mengucapakannya ‘seumpama’ zikir mungkin. Sebab kita manusia adalah biangnya salah dan lupa. Sebut saja seperti ego kita terhadap istri. Ego kita terhadap suami. Ego kita terhadap orangtua. Ego kita terhadap anak. Pemaksaan kehendak kita terhadap adik. Pemaksaan kehendak kita terhadap kakak, dan begitu seterusnya. Seakan tidak pernah ada habisnya.

Pesimis memang, kata ‘maaf’ itu sendiri akan begitu mudah meluncur dari lisan kita. Se-pesimis kita yang bertanya, akankah tindakan meminta maaf itu melunturkan segala dosa-dosa kita, yang pasti bejibun banyaknya?

Sama halnya dengan tindakan ‘memaafkan’ yang juga super sulit untuk dilakukan. Tampaknya memang, sikap ‘maaf-memaafkan’ adalah perilaku ksatria yang tidak bisa sembarangan orang tiru. Kalaupun bisa, kita terbiasa mau memaafkan apabila ada timbal balik. Atau setidaknya kita telah mau dan memang bisa menerima kesalahan itu. Jadi, ketentuan mood, momen dan waktu tetap berlaku.

Pada hari ke-7 di bulan puasa ini, sepertinya hubungan antar manusia itu memang harus sama-sama kita perbaiki. Toh hablum minan nas juga bertalian erat dengan hablum minal lah. Bagaimana mungkin, kita bisa mengaku sebagai hamba yang paling bertakwa. Jika kita tidak bisa memaafkan salah saudara kita. Bukankah Allah Tuhan kita itu Maha Pemaaf? Wallahu ‘alam bish shawab.

Menggunakan Media Sosial untuk Kebaikan

Ada banyak cara dalam menyebarkan kebaikan. Salah satunya adalah dengan menggunakan media sosial secara bijak. Ya, media sosial yang sedang digandrungi anak muda milenial saat ini. Pergunakanlah media sosial untuk mengajak kepada kebaikan. Meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan untuk terus berbuat baik. Bukan sebaliknya, menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian. Hal ini tentu menimbulkan perpecahan. Sudah saatnya kita menggunakan kreativitas di jagat maya untuk hubungan manusia yang lebih baik. Tentu tidak perlu menunggu ‘centang biru’ untuk itu. Sebab berbuat baik tidak pernah menunggu waktu tertentu. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam menjalankan puasa pertama ini. Amin.