Redefinisi Industri Media Digital

  • Industri adalah perusahaan padat modal atau padat karya, yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, lewat produk ataupun jasa yang diproduksinya.
  • Namun di balik belahan bisnis tersebut, industri juga memiliki tanggung jawab sosial (corporate social responsibility), di balik keuntungan profit yang memang menjadi target utamanya.
  • Media adalah saluran (channel), wadah untuk menyampaikan dan menerima sesuatu, bentuk jamak dari medium, merupakan bentuk dari komunikasi massa.
  • Adapun bentuk-bentuk komunikasi massa tersebut, seperti: media cetak, media elektronik, dan media digital.
  • Media cetak seperti: koran, majalah, tabloid, dan sebagainya; sedangkan media elektronik seperti: televisi dan radio; sedangkan media baru (new media) seperti: media siber (online) maupun media sosial (termasuk di dalamnya media obrolan).
  • Pada umumnya, fungsi dari seluruh jenis media tersebut adalah: to inform (menginformasikan), to educate (mendidik), to entertain (menghibur), dan to social control (kontrol sosial/watch dog).
  • Dalam perspektif komunikasi massa, digitalisasi adalah bentuk tansformasi dan konvergensi media massa analog (konvensional) menuju digital berbasis jaringan internet, yang meski tidak berwujud fisik, namun tetap dapat dikonsumsi secara maya.
  • Hal ini terjadi lantaran perkembangan zaman di bidang Teknologi Informasi yang kian masif. Terjadinya disrupsi digital ini, menyebabkan seluruh sektor kehidupan manusia  seakan ‘dipaksa’ untuk bermigrasi besar-besaran menuju era digitalisasi informasi.
  • Industri media digital adalah perusahaan media berbasis situs web/aplikasi yang menyajikan konten dengan mengandalkan jaringan internet.
  • Tujuan utama dari produksi dan distribusi konten tersebut adalah untuk menghidupi pemilik dan kru di dalamnya (ekologi media). Penghasilan ini bisa didapat melalui: iklan, khalayak, platform dan konten itu sendiri.
  • Struktur kru di dalam industri media digital pun lebih ramping dan biaya produksi lebih low budget.
  • Kekuatan sekaligus peluangnya adalah industri media digital memberikan lahan pekerjaan baru, terkhusus bagi Generasi Y (secondary) dan Z (primary) seperti:WFA (Work from Anywhere), mampu mengasah kreativitas, dan tidak ‘tertekan’ dengan birokrasi yang selama ini terbilang rumit.
  • Kekuatan sekaligus peluangnya adalah terwujudnya demokratisasi informasi. Artinya setiap anak bangsa memiliki hak yang sama atas suatu informasi, terciptanya transparansi informasi, dan memunculkan media-media alternatif, yang selama ini dikuasai oleh media-media privilledge seperti media arus utama.
  • Penyampaian informasi juga tidak lagi bersifat ‘Jakarta Centris’.
  • Kekuatan sekaligus peluangnya adalah memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk bisa menjadi figur publik, tanpa harus melalui serangkaian seleksi yang panjang (jalur viral).
  • Maraknya citizen journalism yang membantu Pers dan Kepolisiandalam menginformasikan serta menindaklanjuti peristiwa-peristiwa yang tidak terjangkau oleh mereka setiap hari x 24 jam.
  • Kekuatan sekaligus peluangnya adalah meningkatkan minat baca masyarakat, meski informasi yang tersedia ‘belum tentu terkurasi’ dengan baik, sehingga meningkatkan daya kognitif, afektif dan behavioral masyarakat, sehingga tidak ada lagi terjadi gap informasi.
  • Munculnya kebebasan masyarakat dalam berekspresi dan mendapatkan informasi, sebagaimana dijamin oleh UUD.
  • Kelemahan sekaligus tantangannya adalah menenggelamkan industri media lama menuju sunset bahkan decline (terhapus), yang sebelumnya pernah berada pada tahap kematangan sebuah industri media (maturity peak).
  • Artinya akan banyak insan media yang dipecat, dan harus ‘hijrah’ ke platform baru untuk bisa kembali berkarya.
  • Kelemahan sekaligus tantangannya adalah memunculkan tontonan yang tidak mendidik, namun harus diakui masih tetap digemari masyarakat sampai dengan saat ini, karena minimnya literasi.
  • Memunculkan figur-figur publik baru yang sebenarnya tidak patut dicontoh, khususnya bagi anak dan remaja.
  • Hal ini bisa terjadi karena industri media digital lebih bersifat personal, menggunakan akun personal, dan mengandalkan popularitas personal bukan lembaga, meskipun harus diakui terdapat tim khusus di dalamnya.
  • Kelemahan sekaligus tantangannya adalah memunculkan banyaknya konten hoaks dan mengandung ujaran kebencian. Hal ini terjadi karena regulasi UU ITE yang diterapkan berbasis pada laporan masyarakat, dan tidak adanya badan khusus yang mengawasi permasalahan ini, serta terjadinya praktik free writing tanpa gate keeper yang jelas.
  • Namun, terlepas dari sisi buruk industri media digital, sektor pekerjaan ini merupakan target baru lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi di Indonesia.