Dulu, saat Bapak dan Mamak masih menyewa rumah. Kami sering kali berpuasa dalam keadaan listrik padam. Lucunya hal ini sering terjadi ketika hendak berbuka, bukan pagi atau siang sebelum itu. Jadinya kami tidur bertemankan lampu semprong (lampu minyak). Lantaran terlalu sering memakainya, dan mungkin juga karena terlalu dekat jaraknya, ujung-ujung hidung kami pun menjadi hitam terkena asap. Kami tertawa-tawa ketika itu. Kejadian unik setiap sahur tiba.
Kini, berbelas tahun setelah kejadian itu. Kami masing-masing mulai hidup terpisah. Aku di Medan bersama keluarga kecilku, adik-adikku di perantauan (Jambi, Aceh dan juga ada yang masih di pesantren). Mamak di rumah dan Bapak, mungkin sudah tiga tahun kami berpuasa tanpa kehadiran beliau. Bapak sudah dipanggil Allah lebih dulu. Mungkin Allah SWT lebih sayang kepada Bapak. Orang baik dan gigih yang aku kenal selama ini.
Demikianlah hidup, hanya tempat persinggahan semata. Lirik lagu Endank Soekamti: Datang akan Pergi/Lewat kan Berlalu/Ada kan tiada/Bertemu akan Berpisah. Namun, mengingat Allah baik ketika berdiri, duduk maupun berbaring jangan sampai terlupa. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan Penguasa Alam Semesta.
Pada hari ke-4 bulan puasa ini, mari bersama-sama kita memanfaatkan waktu dan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Toh, kita tidak akan pernah tahu, akankah berjumpa lagi pada bulan puasa yang akan datang. Sesungguhnya jodoh, rezeki dan maut adalah rahasia milik Allah SWT.