Aku bahkan baru mengenal kata ‘hijrah’ ketika kuliah S2. Sebelumnya aku tak pernah kenal istilah itu. Meskipun aku lulusan pesantren. Aku baru mengenal istilah itu dari istriku sekarang. Kala itu, ia rajin bolak-balik ikut kajian setiap sabtu dan minggu.
Mula-mula ketika aku coba mengikuti rutinitasnya. Aku merasa besar kepala. Aku merasa lebih tahu soal agama ketimbang ustadz yang sedang memberikan kajian. Aku merasa lebih paham, karena 6 tahun duduk di pesantren. Mulai dari Madrasah Tsanawiyah (SMP) hingga Madrasah Aliyahย (SMA).
Tapi lama-kelamaan aku tahu, aku salah. Bahwa alim agama itu bukan perkara siapa yang lebih banyak hafal dalil; bukan siapa yang lebih paham soal hukum. Melainkan siapa yang mau lebih banyak mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Aku melihat perilaku saleh itu pada para jamaah kajian. Mereka senantiasa tersenyum. Mereka rendah hati, seperti tidak pernah ada masalah dalam hidup mereka. Terlebih lagi mereka kaya. Hal yang selama ini menjadi tujuan hidupku. Ternyata mereka malah mencari tujuan hidup yang lain. Yaitu ketenteraman hati.
Sejak saat itu, walaupun sulit. Orientasi hidupku mulai kuubah. Aku harus hijrah. Dalam artian pindah dari pandanganku yang materialis kepada islamisme. Artinya tidak harus kaya, tapi berkecukupan dan hati bahagia. Tidur cukup dan yang terpenting punya waktu bersama keluarga.
Hidup memang tidak semudah itu (Ferguso). Hahaha. Tapi Islam memang harus mulai menjadi the way of life (cara hidup) kita kaum mukmin. Pada hari ke-5 di bulan puasa ini, yuk mulai bertransformasi (pindah/hijrah) baik secara fisik maupun mental menuju ke arah yang lebih baik. Amin๐๐