Maaf adalah kata yang mudah untuk ditulis, tapi sulit sekali untuk dikatakan. Coba saja katakan kata itu pada suamimu, istrimu, anakmu, orangtuamu, ataupun saudaramu. Niscaya akan mendadak sulit, lidah terasa kelu dan berat. Seolah ada banyak hal yang harus dipikirkan, bahkan sebelum mengucapkan kata ‘maaf’ itu.
Padahal, kita harus senantiasa mengucapakannya ‘seumpama’ zikir mungkin. Sebab kita manusia adalah biangnya salah dan lupa. Sebut saja seperti ego kita terhadap istri. Ego kita terhadap suami. Ego kita terhadap orangtua. Ego kita terhadap anak. Pemaksaan kehendak kita terhadap adik. Pemaksaan kehendak kita terhadap kakak, dan begitu seterusnya. Seakan tidak pernah ada habisnya.
Pesimis memang, kata ‘maaf’ itu sendiri akan begitu mudah meluncur dari lisan kita. Se-pesimis kita yang bertanya, akankah tindakan meminta maaf itu melunturkan segala dosa-dosa kita, yang pasti bejibun banyaknya?
Sama halnya dengan tindakan ‘memaafkan’ yang juga super sulit untuk dilakukan. Tampaknya memang, sikap ‘maaf-memaafkan’ adalah perilaku ksatria yang tidak bisa sembarangan orang tiru. Kalaupun bisa, kita terbiasa mau memaafkan apabila ada timbal balik. Atau setidaknya kita telah mau dan memang bisa menerima kesalahan itu. Jadi, ketentuan mood, momen dan waktu tetap berlaku.
Pada hari ke-7 di bulan puasa ini, sepertinya hubungan antar manusia itu memang harus sama-sama kita perbaiki. Toh hablum minan nas juga bertalian erat dengan hablum minal lah. Bagaimana mungkin, kita bisa mengaku sebagai hamba yang paling bertakwa. Jika kita tidak bisa memaafkan salah saudara kita. Bukankah Allah Tuhan kita itu Maha Pemaaf? Wallahu ‘alam bish shawab.