Entah kapan terakhir kali kita berani, saat kenyataan menampar kesadaran kita..
Entah kapan terakhir kali kita berani, saat isu-isu mental health menggerus keberanian kita..
bahkan untuk sekadar menegur sesuatu hal yang lazimnya benar
Mental kita lantas menjadi lemah, tidak lagi kuat seperti dulu.
Saat nenek moyang kita mengusir penjajah hanya dengan menggunakan bambu runcing..
Kita tidak lagi benar-benar hebat..
Terbukti dari bungkamnya kita terhadap ketidakadilan di depan mata,
Kita lebih memilih mengenyampingkan itu karena dapur keluarga yang tetap mengepul jauh lebih penting..
Kita tidak lagi benar-benar hebat, saat saran dan kritikan bahkan penilaian untuk kebaikan hanya mampu kita simpan di dalam hati.
Tidak berani lagi kita utarakan hanya karena takut akan ada yang sakit hati (mental health)..
Wal akhir, kita ragu akan maju jika terus memiliki mental seperti ini..
Goebahan. K